BSNP: Nilai UN Dipakai Masuk PTN Amanat PP

15 January 2018 - Kategori Blog

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mempertanyakan keputusan Panitia Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) untuk tidak menggunakan nilai ujian nasional (UN) dan ujian sekolah berstandar nasional (USBN). Menurut Kepala BSNP Bambang Suryadi, dalam PP 19/2005, hasil UN digunakan di antaranya untuk dasar seleksi masuk jenjang pendidikan berikutnya.

Hasil UN SMP, misalnya, digunakan untuk pertimbangan seleksi masuk SMA. Demikian hasil UN SMA dipertimbangkan untuk seleksi masuk PT.

“Jadi ini amanat PP walaupun hanya jadi salah satu pertimbangan. Artinya ada pertimbangan lain, selain hasil UN,” terang Bambang, Sabtu (13/1).

Bila ada pihak yang tidak menggunakannya, lanjutnya, itu hak pengguna (perguruan tinggi). Namun perlu ada penjelasan, mengapa amanat PP tersebut belum diterapkan.

Dia menegaskan, posisi nilai UN terhadap rapor sekolah, adalah sebagai correcting factor. Maksudnya, ujian semesteran sekolah yang selama ini dilakukan oleh guru, menggunakan acuan norma (norma yang berlaku di masing-masing sekolah).

Sedangkan soal UN menggunakan acuan kriteria, yaitu standar nasional. Jika ada murid yang memperoleh nilai tinggi (rapor/nilai ujian sekolah) di satu sekolah, wilayah tertentu, nilai tersebut tidak bisa dibandingkan dengan nilai di sekolah lain.

Artinya tidak komparable. Sebaliknya, nilai UN itu bisa dibandingkan antarsekolah atau daerah karena komparable.

Sebelumnya diberitakan bahwa Ketua Panitia SNMPTN Ravik Karsidi mengatakan, Kementerian Riset dan Dikti tidak mempertimbangkan nilai Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) pada penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN. “Kami sepakat untuk tidak bergantung pada nilai USBN dan UN. Tapi USBN dan UN boleh dipakai untuk ujian mandiri boleh,” ujar Ravik di Kantor Kemenristekdikti, Jumat 12 Januari 2018.

Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau SNMPTN 2018 sudah dimulai sejak Sabtu, 13 Januari 2018. Sekolah dan siswa sudah dapat mengakses aplikasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) sejak tanggal tersebut.

Menurut Menteri Kemenristekdikti Mohammad Nasir, jalur SNMPTN merupakan seleksi berdasarkan hasil penelusuran prestasi dan portofolio akademik siswa yang bersumber dari Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).

Nasir juga mengingatkan pada para kepala sekolah untuk memverifikasi data dengan hati-hati. “Semua sekolah diharapkan menyampaikan data yang asli alias tidak memanipulasi data,” kata Nasir.

Pengisian dan verifikasi PDSS digelar pada 13 Januari -10 Februari. Selanjutnya, pendaftaran dibuka pada 21 Februari-6 Maret, pengumuman hasil seleksi dilakukan pada 17 April 2018. Terakhir, pendaftaran ulang peserta yang lulus di perguruan tinggi negeri masing-masing diadakan pada 8 Mei 2018. Daftar ulang tersebut, kata Ravik, dilakukan bersamaan dengan Ujian Tertulis SBMPTN.

Ravik mengatakan, distribusi jumlah alokasi daya tampung pada setiap program studi di PTN tidak berubah dengan tahun 2017 lalu yaitu paling sedikit 30 persen. Ravik juga menuturkan, jumlah peserta akan ditingkatkan dari tahun lalu yang sebelumnya berjumlah 130.854 orang siswa dari 14.397 sekolah. Ravik memperkirakan pendaftar SNMPTN 2018 akan lebih dari 800 ribu orang. “Tahun ini akan lebih ekstensif,” tutur Ravik.

Sumber:

  1. https://nasional.tempo.co/read/1050027/snmptn-2018-tak-pertimbangkan-nilai-un-dan-usbn
  2. https://www.jpnn.com/news/bsnp-amanat-pp-nilai-un-dipakai-masuk-ptn

, , , , ,

 
Chat via Whatsapp