• Jam Buka Toko: 10.00 s.d. 20.00 WIB
  • Status Order
  • SMS/WA: 08562168097
  • Line : @mediabelajarsiswa
  • BBM : MBScom
  • cs@mediabelajarsiswa.com
Terpopuler:

Ujian Nasional Sebaiknya Dihapus?

24 January 2018 - Kategori Blog

Hasil Ujian Nasional (UN) tidak lagi dipergunakan sebagai salah satu rujukan lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018. Hal ini bisa dijadikan alasan kuat bagi pemerintah untuk menghapus permanen model ujian nasional pada tahun ajaran mendatang. Selain itu, nilai ujian nasional juga kini sudah bukan menjadi alat penentu kelulusan untuk tingkat SMP dan SMA sederajat.

Pengamat Pendidikan Said Hamid Hasan menilai, kebijakan dari panitia pusat SNMPTN/SBMPTN dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) terkait kebijakan tersebut sudah tepat. Pasalnya, sistem yang dikembangkan di pendidikan menengah belum berkesinambungan penuh dengan yang diterapkan di pendidikan tinggi. “Saya memaklumi jika kebi­jakan dari pendidikan menengah ke pendidikan tinggi be­lum sepenuhnya terintegrasi. Sebab kebi­jakan mengenai promosi, dari SD ke SMP ke SMA/SMK dan ke perguruan tinggi memang masih masing-masing,” kata Said, dihubungi di Jakarta, Selasa 23 Januari 2018.

Ia menuturkan, menghilangkan fungsi ujian nasional pada SNMPTN/SBMPTN sangat bermanfaat besar bagi pendidikan tinggi nasional. Menurut dia, nilai hasil ujian nasional bu­kan alat ukur yang baik untuk menerawang potensi keberhasilan belajar calon mahasiswa di perguruan tinggi. “Karena ujian nasional merupakan tes hasil belajar dengan va­liditas isi yang rendah,” papar Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia ini.

Ia menyatakan, ujian nasional sebaiknya segera dihapus karena sudah kehilangan validitas edukatif dan fungsi seleksi. Alokasi anggaran untuk menggelar ujian nasional yang setiap tahunnya mencapai sekitar Rp 500 miliar bisa direalokasikan untuk membangun infrastruktur pendidikan.”Dengan begitu akan terjadi penghematan ang­garan dari kebijakan pendidik­an yang tidak mendidik. Dana yang teralokasi untuk ujian nasional dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan fasi­litas belajar bagi sekolah yang akreditasinya rendah dan un­tuk membangun kelas/sekolah baru guna memperluas akses pendidikan,” ujarnya.

Hanya 10 persen

Kepala Ba­dan Penelitian dan Pengem­bangan Kemendikbud Totok Suprayitno menegaskan tidak dapat memajukan jadwal peng­umuman ujian nasional dan Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) hanya agar dapat digunakan dalam SNMPTN. “Kalau penentuan kelulusan Perguruan Tinggi Negeri maju-maju te­rus, ya kami tidak bisa mela­yani. Karena ada lini masa yang harus kami penuhi,” kata Totok.

Seperti diberitakan sebelum­nya, Ketua Panitia SNMPTN/SBMPTN 2018 Ravik Karsidi menyatakan, panitia hanya akan menggunakan nilai yang terdata pada Pangkalan Data Siswa dan Sekolah (PDSS) dalam memverifikasi calon mahasiswa dari jalur SNMPTN. Untuk jalur SBMPTN, panitia menggelar tes sendiri dengan berbasis kertas dan komputer. Nilai hasil ujian nasional tidak dipakai rujukan karena kontribusinya terhadap kualitas hasil seleksi hanya 10 persen.

Ia menyatakan, pertimbangan lain mengesampingkan nilai hasil ujian nasional dalam SNMPTN/SBMPTN karena jadwal pengumuman yang tidak sinkron. “Kebijakan ini juga menyusul sikap bersama dari Menristekdikti dan Mendikbud yang menyepakati nilai ujian nasional atau USBN ti­dak dapat digunakan lagi dalam SNMPTN dan SBMPTN. Kalau untuk ujian mandiri, itu terserah rektor. Boleh dipakai atau tidak,” ujar Ravik.

Panitia pusat masih mengalokasikan kursi yang sama seperti tahun lalu, yakni 30:30:30. Artinya, setiap Perguruan Tinggi Negeri harus menyediakan minimal 30 persen kuota untuk SNMPTN, 30 persen untuk SBMPTN dan maksimal 30 persen untuk seleksi mandiri. Kuota 10 persen yang tersisa bisa dipakai untuk SNMPTN atau SBMPTN, tidak ditambahkan pada kuota seleksi mandiri. “Saya mengimbau agar pihak sekolah segera memasukan data pada PDSS, jangan ditunda-tunda,” ucapnya.

 

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2018/01/23/ujian-nasional-sebaiknya-dihapuskan-ini-alasannya-418441

, , , , ,